Jaya Suprana, seorang pakar kelirumologi, pernah membuktikan kekuatan sebuah kata yang disebut “diam!” pada sebuah seminar, begitu tiba gilirannya tampil, Jaya datang, duduk, alalu diam ngejublek selama beberapa menit (tentu dengan mimiknya yang segar dan lucu). Kontan saja, beberapa saat setelahnya para peserta seminar itu tertawa menggelegar.

Ternyata diam itu merupakan kekuatan manusia dan alam semesta yang luar biasa. rangkaian peribahasa tua relevan dengan kekuatan hakiki keadaan diam bisa disebutkan, mulai dari; air tenang menghanyutkan, tong kosong nyaring bunyinya, sampai air beriak tanda tak dalam. Kalau kata orang seberang; silence is golden!

Raja-raja zaman dulu, misalnya Airlangga, setelah turun takhta, terus mencari “puncak kekuasaan” dirinya (baca: kekuatan hakiki), dengan cara mencari “diam”, dengan bertapa untuk mengundurkan diri dari keramaian. Namanya menjadi Resi Genthayu, sampai ia meninggal tahun 1094 lalu dimakamkan di Tirtha. Istilah yang pernah dilontarkan Pak Harto sebelum lengser – madheg pandito! Sayang, dia tak sempat menjalankannya seperti Airlangga.

Unfortunately, “raja-raja zaman modern” dan paska modern ini malah tak bisa “diam”, tak paham ilmu diam. Itu juga banyak terjadi di negeri kita yang modern ini (Maaf, tak perlu menyebutkan nama). Tak paham ilmu diam, bisa berarti tak tahu kapan harus berhenti dan mundur. Bisa juga berarti lebih suka bicara daripada mendengar, seolah tak mau tahu kodrat asali karunia organ manusia yang terkomposisikan dalam “satu mulut dua telinga”.

Uraian dan ilustrasi ini semoga bisa mengirim sinyal halus ke hati nurani kita, bahwa kadang kita harus diam di hadapan-Nya. Itu yang selama ini sulit kita lakukan. Bahkan ketika kita berdoa dan bersimpuh di hadapan-Nya, sejuta pikiran kita, nafsu kita, harapan kita, mimpi kita, terhamburkan keluar melalui mulut kita atau cuma dalam dada. Kita sibuk dengan diri kita dengan sejuta keresahan, permintaan, dan seterusnya. Kita sulit diam di hadapan-Nya.

Tatkala kita banyak bicara di depan Tuhan, maka Dia akan jadi Sang Pendiam! Padahal, jika kita dengan rendah hati dan ikhlas mau diam di hadapan-Nya, setidaknya ada dua hal yang akan menjadi berkah: (1) kita justru akan bisa mendengarkan “suara-Nya”, apa kehendak-Nya, rencana-Nya terhadap kita, dan (2) kita bisa duduk berhadapan dengan-Nya dalam keadaan sama-sama diam. Ketika diam kita dan diam-Nya bertemu, kita akan bertatapan muka satu sama lain. Kita menatap Dia, dan Sang Pendiam itu menatap kita! Bukankah ini sebuah kebahagiaan tiada tara bagi kita manusia yang rendah dan hina ini? karunia terbesar yang ingin kita nikmati setiap detik dalam hidup? Itulah rahasia kekuatan sebuah “diam!”

Dikutip dari Buku: Hidup tanpa Judul oleh Herry Tjahyono (dengan beberapa pengeditan)