Category: Uncategorized


Pembicara : Tere Liye

Buku : Hafalan Shalat Delisa (fiksi, novel)

Tere Liye adalah nama pena dari seorang dosen yang juga bekerja sebagai konsultan akutansi yang bernama asli Darwis. Banyak banget hal menarik yang betul-betul baru tentang apa dan bagaimana kesederhanaan hidup itu sebenarnya. Acara yang barusan ini, namanya doang yang bedah buku. tapi aslinya malah kayak ceramah atau seminar motivasi. Isi ‘ceramahnya’ tapi sama sekali tidak membosankan dan sangat profokatif dari apa yang disiratkan dari pembicara maupun dari tulisan berupa novel-novel Tere Liye itu sendiri.

Selama acara berlangsung, saya hanya sempat mencatat garis-garis besarnya saja yang hanya berupa poin-poin penting yang mungkin agak sulit kalau dijelaskan bukan oleh pembicaranya secara langsung. well, these are the points:

- Hidup itu terlalu kecil untuk dibanggakan. ada bermilyar-milyar manusia yang hidup sekarang ini, dan lebih banyak lagi populasi di dunia sejak nabi Adam diciptakan di muka bumi ini dan hampir semuanya tidak ada yang memperdulikan ‘dirimu’. Kita mungkin bisa menjadi direktur di sebuah perusahaan besar di Indonesia, tapi lantas apakah berjuta-juta orang di negara lain peduli dengan kita?

kita tidak sepatutnya mengorbankan kemuliaan hanya dengan berbangga diri yang tidak dipedulikan oleh orang lain. Pertanyaannya, apakah sahabat-sahabat Rasulullah SAW. lantas tidak lebih mulia dibandingkan direktur atau presiden yang menjabat pemerintahan yang dipenuhi dengan korupt pada saat ini? jawabannya, Tidak. Sang Sahabat, dibalik segala kesederhanaan dan kejujuran hidupnya, justru jauh lebih mulia di ‘mata’ Sang Maha Melihat.

- Tidak perlu menjadi presiden dan direktur untuk melakukan hal-hal yang baik di muka bumi ini. Kebaikan itu ada dimana-mana. Kebaikan itu muncul hanya karena ada niat, bukan karena ada kesempatan. Lakukanlah! Lakukanlah!

- Kemuliaan seseorang tidak pernah dilihat dari tampilan fisik.

- Pilihlah rasa takut yang betul-betul hakiki. Rasa takut itu perlu, dan rasa takut tidak datang dari orang lain.

- Rasa bahagia yang paling hakiki datang dari diri sendiri. Tidak perlu meminta pendapat orang lain tentang arti kebahagiaan yang kita cari.

- Jujur adalah segala-galanya, walaupun hal itu adalah pahit.

- Sederhana itu dekat sekali dengan ketulusan.

- Kita itu terlalu sibuk untuk berdebat dan bertanya. Padahal yang kita butuhkan itu hanyalah penjelasan dan mengerti.

- Idealisme itu berarti mempunyai pendapatan yang tidak terkait dengan sistem apapun, dan jangan pernah mau diperintah oleh ‘siapapun’. Seseorang akan sulit untuk menggapai idealismenya jika seseorang tersebut masih ‘butuh’ dengan orang lain.

- Pemahaman yang baik adalah sangat berharga dan sangat penting untuk dijaga. Syukurilah ilmu dan pemahaman yang baik agar kita dapat memperoleh kebahagiaan dan keberkahan atas ilmu yang berharga.

Sabtu, 3 April 2010, Theater A, ITS, Surabaya.

Jaya Suprana, seorang pakar kelirumologi, pernah membuktikan kekuatan sebuah kata yang disebut “diam!” pada sebuah seminar, begitu tiba gilirannya tampil, Jaya datang, duduk, alalu diam ngejublek selama beberapa menit (tentu dengan mimiknya yang segar dan lucu). Kontan saja, beberapa saat setelahnya para peserta seminar itu tertawa menggelegar.

Ternyata diam itu merupakan kekuatan manusia dan alam semesta yang luar biasa. rangkaian peribahasa tua relevan dengan kekuatan hakiki keadaan diam bisa disebutkan, mulai dari; air tenang menghanyutkan, tong kosong nyaring bunyinya, sampai air beriak tanda tak dalam. Kalau kata orang seberang; silence is golden!

Raja-raja zaman dulu, misalnya Airlangga, setelah turun takhta, terus mencari “puncak kekuasaan” dirinya (baca: kekuatan hakiki), dengan cara mencari “diam”, dengan bertapa untuk mengundurkan diri dari keramaian. Namanya menjadi Resi Genthayu, sampai ia meninggal tahun 1094 lalu dimakamkan di Tirtha. Istilah yang pernah dilontarkan Pak Harto sebelum lengser – madheg pandito! Sayang, dia tak sempat menjalankannya seperti Airlangga.

Unfortunately, “raja-raja zaman modern” dan paska modern ini malah tak bisa “diam”, tak paham ilmu diam. Itu juga banyak terjadi di negeri kita yang modern ini (Maaf, tak perlu menyebutkan nama). Tak paham ilmu diam, bisa berarti tak tahu kapan harus berhenti dan mundur. Bisa juga berarti lebih suka bicara daripada mendengar, seolah tak mau tahu kodrat asali karunia organ manusia yang terkomposisikan dalam “satu mulut dua telinga”.

Uraian dan ilustrasi ini semoga bisa mengirim sinyal halus ke hati nurani kita, bahwa kadang kita harus diam di hadapan-Nya. Itu yang selama ini sulit kita lakukan. Bahkan ketika kita berdoa dan bersimpuh di hadapan-Nya, sejuta pikiran kita, nafsu kita, harapan kita, mimpi kita, terhamburkan keluar melalui mulut kita atau cuma dalam dada. Kita sibuk dengan diri kita dengan sejuta keresahan, permintaan, dan seterusnya. Kita sulit diam di hadapan-Nya.

Tatkala kita banyak bicara di depan Tuhan, maka Dia akan jadi Sang Pendiam! Padahal, jika kita dengan rendah hati dan ikhlas mau diam di hadapan-Nya, setidaknya ada dua hal yang akan menjadi berkah: (1) kita justru akan bisa mendengarkan “suara-Nya”, apa kehendak-Nya, rencana-Nya terhadap kita, dan (2) kita bisa duduk berhadapan dengan-Nya dalam keadaan sama-sama diam. Ketika diam kita dan diam-Nya bertemu, kita akan bertatapan muka satu sama lain. Kita menatap Dia, dan Sang Pendiam itu menatap kita! Bukankah ini sebuah kebahagiaan tiada tara bagi kita manusia yang rendah dan hina ini? karunia terbesar yang ingin kita nikmati setiap detik dalam hidup? Itulah rahasia kekuatan sebuah “diam!”

Dikutip dari Buku: Hidup tanpa Judul oleh Herry Tjahyono (dengan beberapa pengeditan)

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.